Jumat, Februari 19, 2010

Pasca Pemakzulan SBY-Boediono dengan Bai'at

Pemimpin Indonesia bukan hanya Presiden, jadi presiden hanya pemimpin bagi yang mengakuinya sebagai pemimpin. Pemimpin di saat tidak di akui kepemimpinannya maka ada dua kemungkinan, pemimpin akan marah atau pemimpin akan diam/membiarkan.

Pemimpin akan marah di saat kepemimpinannya sudah tidak diakui terjadi pada zaman seperti Khalifah Ali ra marah kepada Muawiyah, Ir Sukarno marah kepada Jenderal Soeharto, Gus Dur marah kepada Megawati, dan Megawati marah kepada SBY.

Pemimpin akan diam di saat kepemimpinannya sudah diakui terjadi pada zaman sekarang SBY. SBY diam kepada yang bukan pendukungnya.

Di dalam sejarah kekhalifahan/kepemimpinan pasca khalifah/amirul mukminin Ali ra, terjadi perebutan antara penuntut kematian Ali ra dengan Muawiyah. Dan pada kekuasaan Muawiyah ini kepemimpinan mulai diwariskan atau bersistem dinasti atau kerajaan.

Muawiyah tumbang oleh Abbas yang mendirikan Abbasiyah juga masih dalam bentuk dinasti hingga kekuasaan Ustmaniyah di Turki juga dalam bentuk Dinasti.

Kekuasaan turun temurun ini memiliki latar belakang yang berbeda, bagi pengikut Ali ra mereka memilih pemimpin hanya dari keturunan nabi Muhammad saw, sedangkan pada dinasti Muawiyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah mereka menginginkan kekuasaan menurun kepada anak-anaknya.

Nabi Muhammad saw bersabda bahwa keturunan beliau adalah ahli surga, dan akan dihapus dosa-dosanya.

Secara umum Nabi tidak menjadikan keturunannya sebagai pemimpin, dengan jumlah keturunan yang banyak tentu tidak mungkin semua menjadi pemimpin, karena pemimpin itu hanya satu.

Sehingga hadist itu diartikan untuk menauladani keturunan Nabi, seperti halnya mereka (keturunan Nabi) meneladani Nabi. Dan sebagai mana Rasul sabdakan "ikutilah aku di saat benar dan jangan ikuti aku di saat salah", keturunan Nabi juga seharusnya mendapatkannya.

Seorang Sahabat bahkan pernah berkata kepada Nabi Muhammad saw "apakah ini dari dirumu sendiri atau dari Tuhan, jika dari dirimu sendiri aku tidak akan mengikuti"

Artinya sebagai manusia tidak terlepas dari kesalahan atau lupa, yang tentu saja dengan kadar masing-masing.

Para pemimpin seharusnya sadar, di saat mereka menjadi pemimpin tidak sepenuhnya harus di taati dan tidak sepenuhnya harus diingkari.

Tolak ukur diikuti atau diingkari ini pertama harus datang dari diri pemimpin, apakah kebijakannya itu sudah benar untuk diikuti/dilaksanakan atau tidak. Seperti Rasul menjawab pertanyaan sahabatnya dengan sabdanya "bahwa ini dari Tuhan", sehingga semua rela melaksanakannya meskipun berat.

Pada era kedua dalam kepemimpinan SBY seperti sudah merencanakan untuk bertindak tegas. Beberapa kali SBY menekankan dalam ucapannya tentang sikap-sikap yang tidak dia sukai berkaitan dengan protes terhadap dirinya.

Apakah ini yang kemudian akan menjadi titik balik kepemimpinannya?

Sistem seperti apa jika SBY-Boediono bener-bener lengser yang akan menggantikannya?

Huum Tata Negara mengatur bahwa presiden hanya boleh diberhentikan jika 1. berhalangan tetap (meninggal), 2. dihukum 5 tahun, 3. tidak bisa menjalankan tugasnya lagi

Tetapi DPR/MPR tidak memiliki kewenangan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, apakah Menteri2 yang akan menggantikan sementara? kemudian Pemilu?

Sungguh rumit, proses pemakzulan ini, lebih mudah dengan pengakuan (bai'at).

Sehingga setelah SBY-Boediono dimakzulkan kemudian dibentuk lembaga Bai'at untuk mendapatkan orang Indonesia yang paling banyak mendapatkan Bai'at sebagai Presiden, tidak dengan Pemilu.
(MH/YK/II/18-2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MLS

MLS
multi level sedekah

Mengenal Tambang Lebih Dekat

SATU JARINGAN,MULTI BISNIS!

Entri Populer